A. Pendahuluan
1. Latar belakang
Penyakit diare sampai dengan saat ini masih termasuk masalah kesehatan terbesar dunia apalagi bagi negara-negara berkembang karena angka kesakitan dan kematian yang masih tinggi. Pada tahun 2009, The United Nations Chlidren Fund (UNICEF) dan World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa Asia Selatan merupakan benua tertinggi yang menderita diare pada balita yakni sebesar 783 juta, kemudian Afrika sebesar 696 juta, sebagian dari dunia sebesar 480 juta dan Asia Timur dan Pasifik sebesar 435 juta. Pada tahun 2015 lebih dari 1.400 anakanak meninggal setiap hari, atau sekitar 526.000 anak per tahun yang disebabkan karena diare (Ariani, 2016).
Di Indonesia kematian anak dan balita masih sangat tinggi yang disebabkan oleh diare dengan prevalensi tertinggi terdeteksi pada anak balita (1-4 tahun) yaitu 16,7%. Pada tahun 2003 hingga 2010, berdasarkan survei morbiditas yang dilakukan oleh Subdit diare, insiden diare cenderung naik yakni tahun 2003 sebanyak 374 /1000 penduduk, tahun 2006 naik menjadi 423 /1000 penduduk dan tahun 2010 menjadi 411/1000 penduduk (Kemenkes RI, 2011).
Berdasarkan data dan informasi Profil Kesehatan Indonesia tahun 2016, terlihat bahwa penemuan kasus diare ditangani menurut provinsi Sulawesi Utara tercatat berjumlah 6.337 orang (9,7%) dan perkiraan diare difasilitas kesehatan berjumlah 65.127 orang. Penyakit diare sering dijumpai pada anak-anak. Diare merupakan penyakit yang ditandai dengan Buang Air Besar (BAB) encer lebih dari 3 kali dalam sehari (Ariani, 2016).
2. Pembahasan
Penyakit menular menjadi salah satu masalah kesehatan yang besar di hampir semua negara berkembang termasuk Indonesia. Penyakit menular menjadi masalah kesehatan global karena menimbulkan angka kesakitan dan kematian yang relatif tinggi dalam kurun waktu yang relatif singkat. Penyakit menular merupakan perpaduan berbagai faktor yang saling mempengaruhi. Faktor tersebut terdiri dari lingkungan (environment), agen penyebab penyakit (agent), dan pejamu (host). Ketiga faktor tersebut disebut sebagai segitiga epidemiologi (Widoyono, 2008)
Menurut saya, dalam kehidupan sehari hari sangat banyak virus dan bakteri yang seperti ‘teman’ bagi manusia, yang mana dalam artian manusia sudah terbiasa hidup dengan berbagai macam virus ataupun bakteri penyebab suatu penyakit. Beberapa penyakit yang disebabkan oleh virus menular dari manusia ke manusia melalui berbagai cara, mulai dari berdekatan dengan inang pembawa virus atau bakterinya, ataupun dengan cara lain seperti faktor lingkungan. Penyakit menular seperti inilah yang menjadi masalah bagi menusia, apalagi bila penularannya tergolong cepat. Bila suatu orang atau penduduk tertular penyakit menular, maka ia beresiko menularkan lagi penakit tersebut ke orang lain, begitu pula seterusnya. Hal ini lah yang seringkali menjadi sebuah wabah maupun pandemi. Imunitas tubuh yang kuat dapat menghambat suatu virus masuk dala tubuh manusia, namun sangat banyak masyarakat Indonesia dengan beragam kebiasaan, gaya hidup, dan lingkungan tempat tinggalnya yang mempengaruhi penularan suatu virus. Gaya hidup tidak sehat dapat memicu suatu virus lebih berkembang dalam tubuh manusia, kebiasaan jorok dapat mempermudah virus masuk dalam tubuh manusia, dan lingkungan tempat tinggal yang tidak bersih serta jauh dari perawatan dapat menyebabkan suatu virus cepat menyebar dari manusia ke manusia.
Salah satu penyakit menular adalah diare. Penyakit diare dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain keadaan lingkungan, perilaku masyarakat, pelayanan masyarakat, gizi, kependudukan, pendidikan yang meliputi pengetahuan, dan keadaan sosial ekonomi. Sementara itu penyebab dari penyakit diare itu sendiri antara lain virus yaitu Rotavirus (40-60%), bakteri Escherichia coli (2030%), Shigella sp. (1-2%) dan parasit Entamoeba hystolitica (<1%) Diare dapat terjadi karena higiene dan sanitasi yang buruk, malnutrisi, lingkungan padat dan sumber daya medis yang buruk (Dyah, 2007)
Melalui pernyataan diatas dapat diketahui bila diare merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Escherichia Coli. Penyakit ini dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, perilaku masyarakat, pelayanan masyarakat, gizi, kependudukan, pendidikan yang meliputi pengetahuan, dan keadaan sosial ekonomi. Tingkat ekonomi masyarakat yang rendah juga dapat memicu terjadinya diare dikarenakan kurangnya perawatan lingkungan sehingga bakteri maupun virus dapat berkembang biak dengan mudah. Kurangnya pendidikan akan penyakit diare seringkali menjadi masalah utama kematian balita di Indonesia, karena penyakit diare perlu penangangan khusus untuk menanggulanginya bagi penderita agar tidak lambat ditangani, yang mana hal itu dapat berakibat fatal. Inilah pentingnya mempelajari suatu penyakit penular terutama diare untuk setiap orang. Hal ini dikarenakan penyakit diare menyebabkan banyak kematian tertama pada balita dan masih menjadi masalah kesehatan besar di dunia.
Diare merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian hampir di seluruh daerah geografis di dunia dan semua kelompok usia dapat terserang. Diare menjadi salah satu penyebab utama mordibitas dan mortalitas pada anak di negara berkembang. Di negara berkembang, anak-anak balita mengalami rata-rata 3-4 kali kejadian diare per tahun tetapi di beberapa tempat terjadi lebih dari 9 kali kejadian diare per tahun hampir 1520% waktu hidup dihabiskan untuk diare (Soebagyo, 2008).
Menurut saya, kematian balita diebabkan penyakit diare dikarenakan kurangnya pengetahuan akan penyakit berbahaya ini, seringkali ibu ibu muda yang minim akan pengetahuan tentang penyakit diare mengira jika diare dapat sembuh dengan sendirinya dan menganggapnya sebagai penyakit biasa. Padahal hal inilah yang menyebabkan balita tidak tertangani dan akhirnya berujung fatal. Untuk menghindari terjadinya hal hal seperti ini sangat penting edukasi pada masyarakat dalam media apapun untuk memberi pengetahuan tentang bahaya dan penanganan penyakit diare, serta untuk menekan angka kematian balita akibat penyakit menular diare, yang mana hal ini diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari hari oleh semua kalangan masyarakat.
3. Kesimpulan
a. Salah satu penyakit menular adalah diare. Penyakit diare dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain keadaan lingkungan, perilaku masyarakat, pelayanan masyarakat, gizi, kependudukan, pendidikan yang meliputi pengetahuan, dan keadaan sosial ekonomi.
b. Diare merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian hampir di seluruh daerah geografis di dunia dan semua kelompok usia dapat terserang. Diare menjadi salah satu penyebab utama mordibitas dan mortalitas pada anak di negara berkembang.
4. Daftar Pustaka
Ariani, A. Putri. 2016. Diare: Pencegahan dan Pengobatannya. Yogyakarta: Nuha Medika
Dyah, Ragil. 2017. Hubungan Antara Pengetahuan Dan Kebiasaan Mencuci Tangan Pengasuh Dengan Kejadian Diare Pada Balita. Journal Of Education. 2(1). 69-80
Kemenkes RI, (2011). Situasi Diare di Indonesia. Jakarta. www.depkes.go.id/download.php?f ile=download/pusdatin/buletin/bule tin-diare.pdf (diakses tanggal 07 Oktober 2017)
Soebagyo. 2008. Diare Akut pada Anak. Surakarta : Universitas Sebelas Maret Press.
Widoyono. 2008. Penyakit Tropis Epidemiologi, Penularan, Pencegahan dan Pemberantasannya. Jakarta : Erlangga.
