Minggu, 28 Juni 2020

REBUSAN AKAR BAYAM DURI (Amaranthus Spinosus L.) UNTUK MENGATASI PENYAKIT DIARE PADA BALITA USIA 1-5 TAHUN DI INDONESIA

A.  Pendahuluan

1.     Latar belakang

Penyakit diare sampai dengan saat ini masih termasuk masalah kesehatan terbesar dunia apalagi bagi negara-negara berkembang karena angka kesakitan dan kematian yang masih tinggi. Pada tahun 2009, The United Nations Chlidren Fund  (UNICEF) dan World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa Asia Selatan merupakan benua tertinggi yang menderita diare pada balita yakni sebesar 783 juta, kemudian Afrika sebesar 696 juta, sebagian dari dunia sebesar 480 juta dan Asia Timur dan Pasifik sebesar 435 juta. Pada tahun 2015 lebih dari 1.400 anakanak meninggal setiap hari, atau sekitar 526.000 anak per tahun yang disebabkan karena diare (Ariani, 2016).

Di Indonesia kematian anak dan balita masih sangat tinggi yang disebabkan oleh diare dengan prevalensi tertinggi terdeteksi pada anak balita (1-4 tahun) yaitu 16,7%. Pada tahun 2003 hingga 2010, berdasarkan survei morbiditas yang dilakukan oleh Subdit diare, insiden diare cenderung naik yakni tahun 2003 sebanyak 374 /1000 penduduk, tahun 2006 naik menjadi 423 /1000 penduduk dan tahun 2010 menjadi 411/1000 penduduk (Kemenkes RI, 2011).

Berdasarkan data dan informasi Profil Kesehatan Indonesia tahun 2016, terlihat bahwa penemuan kasus diare ditangani menurut provinsi Sulawesi Utara tercatat berjumlah 6.337 orang (9,7%) dan perkiraan diare difasilitas kesehatan berjumlah 65.127 orang. Penyakit diare sering dijumpai pada anak-anak. Diare merupakan penyakit yang ditandai dengan Buang Air Besar (BAB) encer lebih dari 3 kali dalam sehari (Ariani, 2016).

2.     Pembahasan

Penyakit menular menjadi salah satu masalah kesehatan yang besar di hampir semua negara berkembang termasuk Indonesia. Penyakit menular menjadi masalah kesehatan global karena menimbulkan angka kesakitan dan kematian yang relatif tinggi dalam kurun waktu yang relatif singkat. Penyakit menular merupakan perpaduan berbagai faktor yang saling mempengaruhi. Faktor tersebut terdiri dari lingkungan (environment), agen penyebab penyakit (agent), dan pejamu (host). Ketiga faktor tersebut disebut sebagai segitiga epidemiologi (Widoyono, 2008)

Menurut saya, dalam kehidupan sehari hari sangat banyak virus dan bakteri yang seperti ‘teman’ bagi manusia, yang mana dalam artian manusia sudah terbiasa hidup dengan berbagai macam virus ataupun bakteri penyebab suatu penyakit. Beberapa penyakit yang disebabkan oleh virus menular dari manusia ke manusia melalui berbagai cara, mulai dari berdekatan dengan inang pembawa virus atau bakterinya, ataupun dengan cara lain seperti faktor lingkungan. Penyakit menular seperti inilah yang menjadi masalah bagi menusia, apalagi bila penularannya tergolong cepat. Bila suatu orang atau penduduk tertular penyakit menular, maka ia beresiko menularkan lagi penakit tersebut ke orang lain, begitu pula seterusnya. Hal ini lah yang seringkali menjadi sebuah wabah maupun pandemi. Imunitas tubuh yang kuat dapat menghambat suatu virus masuk dala tubuh manusia, namun sangat banyak masyarakat Indonesia dengan beragam kebiasaan, gaya hidup, dan lingkungan tempat tinggalnya yang mempengaruhi penularan suatu virus. Gaya hidup tidak sehat  dapat memicu suatu virus lebih berkembang dalam tubuh manusia, kebiasaan jorok dapat mempermudah virus masuk dalam tubuh manusia, dan lingkungan tempat tinggal yang tidak bersih serta jauh dari perawatan dapat menyebabkan suatu virus cepat menyebar dari manusia ke manusia.

Salah satu penyakit menular adalah diare. Penyakit diare dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain keadaan lingkungan, perilaku masyarakat, pelayanan masyarakat, gizi, kependudukan, pendidikan yang meliputi pengetahuan, dan keadaan sosial ekonomi. Sementara itu penyebab dari penyakit diare itu sendiri antara lain virus yaitu Rotavirus (40-60%), bakteri Escherichia coli (2030%), Shigella sp. (1-2%) dan parasit Entamoeba hystolitica (<1%)  Diare dapat terjadi karena higiene dan sanitasi yang buruk, malnutrisi, lingkungan padat dan sumber daya medis yang buruk (Dyah, 2007)

Melalui pernyataan diatas dapat diketahui bila diare merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Escherichia Coli. Penyakit ini dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, perilaku masyarakat, pelayanan masyarakat, gizi, kependudukan, pendidikan yang meliputi pengetahuan, dan keadaan sosial ekonomi. Tingkat ekonomi masyarakat yang rendah juga dapat memicu terjadinya diare dikarenakan kurangnya perawatan lingkungan sehingga bakteri maupun virus dapat berkembang biak dengan mudah. Kurangnya pendidikan akan penyakit diare seringkali menjadi masalah utama kematian balita di Indonesia, karena penyakit diare perlu penangangan khusus untuk menanggulanginya bagi penderita agar tidak lambat ditangani, yang mana hal itu dapat berakibat fatal. Inilah pentingnya mempelajari suatu penyakit penular terutama diare untuk setiap orang. Hal ini dikarenakan penyakit diare menyebabkan banyak kematian tertama pada balita dan masih menjadi masalah kesehatan besar di dunia.

Diare merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian hampir di seluruh daerah geografis di dunia dan semua kelompok usia dapat terserang. Diare menjadi salah satu penyebab utama mordibitas dan mortalitas pada anak di negara berkembang. Di negara berkembang,  anak-anak balita mengalami rata-rata 3-4 kali kejadian diare per tahun tetapi di beberapa tempat terjadi lebih dari 9 kali kejadian diare per tahun hampir 1520% waktu hidup dihabiskan untuk diare (Soebagyo, 2008).

Menurut saya, kematian balita diebabkan penyakit diare dikarenakan kurangnya pengetahuan akan penyakit berbahaya ini, seringkali ibu ibu muda yang minim akan pengetahuan tentang penyakit diare mengira jika diare dapat sembuh dengan sendirinya dan menganggapnya sebagai penyakit biasa. Padahal hal inilah yang menyebabkan balita tidak tertangani dan akhirnya berujung fatal. Untuk menghindari terjadinya hal hal seperti ini sangat penting edukasi pada masyarakat dalam media apapun untuk memberi pengetahuan tentang bahaya dan penanganan penyakit diare, serta untuk menekan angka kematian balita akibat penyakit menular diare, yang mana hal ini diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari hari oleh semua kalangan masyarakat.

3.     Kesimpulan

a.     Salah satu penyakit menular adalah diare. Penyakit diare dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain keadaan lingkungan, perilaku masyarakat, pelayanan masyarakat, gizi, kependudukan, pendidikan yang meliputi pengetahuan, dan keadaan sosial ekonomi.

b.     Diare merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian hampir di seluruh daerah geografis di dunia dan semua kelompok usia dapat terserang. Diare menjadi salah satu penyebab utama mordibitas dan mortalitas pada anak di negara berkembang.

4.     Daftar Pustaka

Ariani, A. Putri. 2016. Diare: Pencegahan dan Pengobatannya. Yogyakarta: Nuha Medika

Dyah, Ragil. 2017. Hubungan Antara Pengetahuan Dan Kebiasaan Mencuci Tangan Pengasuh Dengan Kejadian Diare Pada Balita. Journal Of Education. 2(1). 69-80

Kemenkes RI, (2011). Situasi Diare di Indonesia. Jakarta.  www.depkes.go.id/download.php?f ile=download/pusdatin/buletin/bule tin-diare.pdf (diakses tanggal 07 Oktober 2017)

Soebagyo. 2008. Diare Akut pada Anak.  Surakarta : Universitas Sebelas Maret Press.

Widoyono. 2008. Penyakit Tropis Epidemiologi, Penularan, Pencegahan dan Pemberantasannya. Jakarta : Erlangga.

Selasa, 07 April 2020

Penulisan Kutipan dan Daftar Pustaka dari Koran

Hallo teman-teman sekalian....
Apa kabar nih? Sehat selalu kan?
Selamat datang di blog ku yang kedua ya, disini kita saling berbagi ilmu dan pengetahuan ^^

Salah satu permasalahan orang-orang terutama mahasiswa adalah penulisan daftar pustaka. Secara umum kita mengetahui jika daftar pustaka itu hanya sebatas dari buku atau jural saja kan, namun banyak daftar pustaka lain loh, salahsatunya dari koran. Jarang orang-orang mengetahui bagaimana cara penulisan kutipan dan daftar pustaka dari koran, maka kami dari kelompok 5 Bahasa Indonesia akan menjelaskan tentang penulisan kutipan dan daftar pustaka dari koran..

Penjelasan kami dapat dilihat pada video berikut :



 Nah bagaimana teman-teman? Apakah sudah dapat dimengerti penjelasan dari kami? Semoga setelah ini kita dapat lebih memperhatikan lagi penulisan kutipan dan daftar pustaka yang benar ya.. Apabila ada yang ditanyakan, dipersilahkan bertanya pada kolom komentar ya...

Sekian dan terimakasih...........

Kamis, 19 Maret 2020

Manfaat Akar Bayam Duri Untuk Antidiare


Hai semuanya…. Selamat datang di blog ku, semoga kalian menyukainya ya :D
Terimakasih ya kepada kalian yang sudah mampir ke blog perdana ku, pada kesempatan kali ini aku memuat artikel tentang Manfaat akar bayam duri sebagai Antidiare. Aku berharap semoga kalian dapat mengambil manfaat dari blog ku ini yah teman-teman.
         
 Gambar 1.1 Aakar bayam duri
  http:/wwwbayam-duri-khasiat
Mungkin bagi kita selama ini tanaman bayam duri seringkali kita anggap sebagai hama yang tumbuh di rerumputan, bahkan seringkali kita semua mengabaikan keberadaannya. Bahkan, seringkali kita melihat tanaman ini diinjak-injak dan dibakar. Hal ini bukan tanpa alasan, karena akar bayam duri memang seringkali tumbuh diantara rerumputan dan ilalang, hingga membuat kita berfikir jika tanaman ini tidak memiliki manfaat. Padahal tanaman bayam duri memiliki sejuta manfaat loh, namun yang akan aku bahas disini merupakan manfaat dari akar bayam duri sebagai antidiare.
            Menurut Lailatul (2013)  Berdasarkan profil kesehatan Indonesia tahun 2011, pada tahun 2010 jumlah penderita diare meningkat menjadi 8.443 kasus dengan korban yang meninggal sebanyak 209 jiwa, dan terjadi KLB di 15 propinsi, sedangkan pada tahun 2011 KLB diare terjadi di 11 propinsi dengan jumlah penderita sebanyak 4.204 orang, jumlah kematian sebanyak 73 orang dengan CFR sebesar 1,74%. Pada tahun 2012 dengan jumlah penderita sebanyak  5.870 orang.
            Dari pengertian diatas dapat kita ketahui bersama jika diare bukan lah suatu hal yang dapat disepelekan, terutama pada anak-anak maupun balita. Seringkali saat diare kita membiarkannya hingga berbuah fatal, atau kita juga sering mencari obat-obat kimia untuk menyembuhkan diare. Namun bagi masyarakat yang tinggal di pinggiran kota yang jauh dari akses apotek maupun pengobatan, hal ini merupakan masalah besar. Karena itulah alasan aku membuat blog ini, agar masyarakat dapat mencari alternative lain selain obat-obat an kimia, juga agar diare tidak dianggap sebagai penyakit sepele.
            Menurut Muharam (2016) Untuk mengatasi diare selain dengan menggunakan obat sintetik juga bisa digunakan obat yang berasal dari alam, salah satunya akar tumbuhan bayam duri (Amaranthus spinosus L.) yang dapat digunakan sebagai obat antidiare dengan cara direbus. Efek antidiare dari akar bayam duri berasal dari kandungan tannin. Mekanisme kerja adalah sebagai adstringen yang menyebabkan adanya penghambatan terhadap motilitas atau peristaltik usus.
            Melalui penyataan diatas kita semua juga dapat mengetahui jika bagian yang bermanfaat sebagai antidiare pada bayam duri adalah akarnya. Bahkan cara pembuatannya pun tergolong mudah yaitu dengan direbus setelah akar dibersihkan dan dipotong kecil-kecil, lalu disaring. Hal ini dapat dilakukan oleh semua orang di rumah masing-masing. Hingga jika hal ini dapat diterapkan oleh semua orang mungkin kita akan lebih memperhatikan tanaman-tanaman yang ada disekitar kita.
            Sekian informasi dari aku, semoga bermanfaat yah….. Terimakasih sudah membaca dan jangan lupa bahagia…








DAFTAR PUSTAKA
Lailatul, Mafazah. 2013. Ketersediaan Sarana Sanitasi Dasar Personal Hygiene Ibu Dan Kejadian Diare. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 8(2). 176-182.
Muharam, Priatna. 2016. Pengaruh Rebusan Akar Bayam Duri (Amaranthus Spinosus L.) Terhadap Diare Pada Mencit Jantan Galur Swiss Webster Dengan Metode Transit Intestina. Jurnal Kesehatan Tunas Bakti Husada. 16(1). 57-59